Connect with us

Bisnis

Lokakarya Menemukan Peluang untuk Mengakses Pasar Halal di Negara-negara Anggota OKI

Published

on

Dalam rangka meningkatkan ekspor produk halal ke negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan mengimplementasikan COMCEC Project “Empowering Halal Industry to Boost Intra—OIC Trade”, Kementerian Perdagangan bekerja sama dengan Indonesia Halal Training and Education Center (IHATEC) menyelenggarakan Lokakarya Discovering Opportunities to Access Halal Market of the OIC Member Countries di Hotel Aryaduta Jakarta, Senin (2/9). Acara ini dibuka oleh Staf Ahli Mendag Bidang Hubungan Internasional, Arlinda. | Photo : kemendag.go.id

JAKARTA – Demi memacu ekspor menuju negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Pemerintah RI akan memaksimalkan pembentukan perjanjian dagang bilateral maupun regional.

Staf Ahli Bidang Hubungan Internasional Kementerian Perdagangan Arlinda mengatakan, salah satu hambatan terbesar ekspor RI ke negara-negara OKI berupa tarif. Menurutnya, tarif impor di negara-negara tersebut tergolong sangat tinggi.

“Untuk itu, saat ini kami sedang berusaha mereduksi tarif di beberapa negara OKI melalui pakta dagang yang sedang kita bahas dengan sejumlah negara. Sebab potensi ekspor ke negara-negara OKI sangatlah besar,” ujarnya dalam workshop Discovering Opportunities to Access Halal Market of the OIC Member Countries, Senin (2/9/2019).

Dia mencontohkan, tarif impor yang diberlakukan Mesir terhadap produk-produk asal RI mencapai 60%. Menurutnya besaran tarif yang hampir serupa pun berlaku di beberapa negara OKI.

Dia melanjutkan, untuk itu, pemerintah RI mengharapkan dengan adanya pakta kerja sama dagang yang dijalin RI dengan beberapa negara OKI, dapat membuat tarif impor produk Indonesia ditekan hingga 0%–5%.

Menurutnya, sejauh ini Indonesia sedang melakukan negosiasi pembentukan kerja sama dagang dengan beberapa negara anggota OKI. Pakta kerja sama dagang itu a.l. Indonesia-Iran Preferential Trade Agrement, Indonesia-Turki Comprehensive Economic Partnership Agreement, Indonesia-Tunisia Preferential Trade Agrement, Indonesia-Pakistan Trade in Goods Agreement dan Indonesia-Maroko Preferential Trade Agrement.

Selain itu, pemerintah RI juga sedang melakukan tahapan penjajakan awal kerja sama antara Indonesia-Gulf Cooperation Council.

Sementara itu, pakta kerja sama antara Indonesia dengan negara OKI yang telah diimplementasikan adalah Indonesia-Pakistan Preferential Trade Agrement dan Memorandum of Understanding Indonesia-Palestina.

Adapun berdasarkan data Kemendag, nilai perdagangan Indonesia dengan negara OKI mencapai US$45,75 miliar pada 2018, naik dari tahun sebelumnya yang mencapai US$41,44 miliar.

Pada tahun lalu, nilai ekspor RI ke negara OKI mencapai US$22,25 miliar. Sementara itu, impornya mencapai US$23,51 miliar. H itu membuat neraca perdagangan RI dengan negara OKI mencatatkan defisit US$1,82 miliar.

Copyright © 2019 All right reserved. PT ARSIA GLOBAL SOLUSI