Connect with us

Bisnis

Membidik Pasar Yordania Pasca Covid-19

Published

on

Webinar membidik potensi dan peluang pasar Produk Indonesia di Yordania

Yordania memiliki potensi sangat besar bagi penetrasi produk-produk unggulan Indonesia, seperti kopi, produk-produk buah-buahan, dan tekstil, mengingat posisinya sebagai hub pasar Timur-Tengah dan re-ekspor bagi pasar AS dan Eropa, dengan potensi pasar hingga 1 miliar orang”. Demikian Dubes RI Amman Andy Rachmianto pada sambutan kunci dalam kegiatan Webinar bertema “Membidik Potensi dan Peluang Pasar Produk Indonesia di Yordania” yang diselenggarakan KBRI Amman pada tanggal 23 Juni 2020.

Webinar kali ini membahas secara komprehensif mengenai perkembangan kondisi ekonomi dan situasi dalam negeri Yordania terkini, termasuk peluang dan tantangan bagi masuknya produk Indonesia ke pasar Yordania. Hadir sebagai narasumber, antara lain Bapak Sutiyoso selaku penasihat Indonesia-Jordan Business Council (IJBC), Ibu Mayra Andrea selaku Presiden IJBC, Ketua KADIN Timur Tengah dan OKI Bapak Fachry Thaib, serta Ibu Dyah Asmarani selaku Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan (P2K2) Kawasan Asia-Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI. Sebanyak lebih dari 160 peserta dari kalangan bisnis dan pengusaha Indonesia hadir pada webinar tersebut.

Dubes Andy mengidentifikasi sejumlah produk utama Indonesia yang dipandang mampu bersaing di pasar Yordania, di antaranya adalah kopi, produk-produk laut, produk makanan jadi, dan rempah-rempah. “Produk-produk makanan Indonesia mudah diterima Pasar Yordania, selain karena kualitasnya yang sangat baik, juga karena dilengkapi dengan sertifikasi halal”, sambung Dubes Andy.

Dalam paparannya Bapak Sutiyoso menekankan bahwa saat ini “merupakan momentum yang sangat baik bagi pelaku usaha Indonesia membuka kembali interaksi dagang dengan Yordania serta melakukan penetrasi pasar secara cepat dan tepat agar mampu bersaing dengan kompetitor global.” Ditambahkan Bapak Sutiyoso bahwa menurutnya Indonesia perlu untuk mulai mendorong penetrasi produk industri unggulan Indonesia seperti industri strategis dan manufaktur, semen, serta produk-produk UMKM.

Menyambung paparan Bapak Sutiyoso, Ketua KADIN Timur Tengah, Fachri Thaib juga memaparkan mengenai potensi penetrasi produk UMKM Indonesia ke pasar timur tengah khususnya Yordania. “Produk UMKM yang saat ini membanjiri pasar Timur Tengah umumnya adalah produk makanan, khususnya di wilayah Arab Saudi, sedangkan untuk pasar Yordania, produk Indonesia masih menghadapi kendala tingginya tarif masuk, sehingga kurang kompetitif dibandingkan produk dari negara lain.”, tegas Fachri.

Presiden IJBC, Mayra Andrea, optimis bahwa produk Indonesia masih mampu bersaing dengan kompetitor negara-negara lain di Yordania. “Pasar Yordania masih sangat potensial bagi masuknya produk-produk Indonesia seperti arang shisha (rokok timur tengah), minyak sawit, dan produk karet”. Di samping itu, Mayra juga sampaikan peluang masuknya produk-produk Indonesia untuk memenuhi kebutuhan renewable energy, seperti solar panel, yang saat ini menjadi fokus pengembangan pemerintah Yordania. Lebih lanjut, Mayra juga mendukung masuknya barang-barang industri strategis dan alat berat khususnya untuk mendukung proses pembangunan pasca konflik sejumlah negara-negara timur tengah.

Sementara itu, Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan kawasan Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri, Dyah Asmarani, menyampaikan hasil analisa peluang ekspor komoditas Indonesia yang dilakukan menggunakan metode Modified Trade Complementarity Index (TC) dan Constant Market Share Analysis (CSMA) mengacu pada basis data tahun 2018. “Melalui Analisa menggunakan kedua metode tersebut didapati sejumlah komoditi unggulan Indonesia yang prospektif untuk pangsa pasar Yordania meliputi bahan dasar medis, kendaraan bermotor, palm oil, arang kayu, kertas, produk pasta, produk garmen, jaringan telpon selular, gandum, dan kopi”.

Dubes Andy mengakui bahwa tingginya bea masuk masih menjadi kendala utama dalam mendorong masuknya produk-produk Indonesia ke Yordania. Oleh karenanya kesepakatan Preferential Tariff Arrangement (PTA) menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan pemerintah dalam mengurangi hambatan-hambatan perdagangan kedua negara. “Kesepakatan PTA Indonesia-Yordania merupakan kunci bagi peningkatan perdagangan Indonesia ke Yordania, yang sementara ini pembahasannya terpaksa tertunda akibat pandemi COVID-19”. Ditambahkan Dubes Andy bahwa tanpa adanya kesepakatan PTA, produk-produk Indonesia akan kalah kompetitif dibandingkan produk dari negara-negara lain.

Pemerintah Indonesia melalui KBRI Amman terus berupaya mempercepat pembahasan PTA ini dengan melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait di Yordania, termasuk dengan Kedutaan Besar Yordania di Jakarta. “KBRI Amman secara serius dan bersungguh-sungguh mengupayakan tercapainya kesepakatan PTA ini yang merupakan salah satu prioritas misi diplomasi ekonomi Indonesia di Yordania sebagaimana diamanatkan Presiden RI” ujar Dubes Andy.

Sepanjang tahun 2019, nilai perdagangan Indonesia– Yordania mencapai USD 285 juta. Meskipun secara umum tercatat peningkatan volume perdagangan pada periode 2016 hingga 2018, neraca perdagangan Indonesia terhadap Yordania masih mengalami defisit rata-rata sekitar USD 77 juta dollar per tahun. Pada tahun 2019, defisit neraca perdagangan Indonesia-Yordania dapat berkurang hingga mencapai USD 69 juta yang dapat diartikan semakin banyaknya produk Indonesia yang memasuki pasar Yordania. “Pada tahun 2019 Indonesia berhasil mengurangi defisit anggaran menjadi USD 68 juta dollar dan diharapkan defisit perdangangan tersebut dapat terus berkurang di tahun-tahun mendatang seiring semakin kuatnya sinergi antara KBRI Amman, KADIN, dan IJBC” tutup Dubes Andy

Copyright © 2019 All right reserved. PT ARSIA GLOBAL SOLUSI